Pasuruan – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pasuruan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Dra. Nur Laila yang lebih dikenal sebagai Ning Ila, menegaskan bahwa penguatan pendidikan Al-Qur’an menjadi prioritas dalam perjuangan politiknya sebagai anggota Nahdlatul Ulama (NU) dan wakil dari PKB. Pernyataan ini disampaikan dalam acara memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-75 Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU), yang diadakan bersamaan dengan peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Putri Al Ishlahiyyah, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.
Bagi Ning Ila, kehadirannya dalam acara JQHNU bukan hanya sebagai formalitas, tetapi sebagai bentuk dukungan politik yang konsisten terhadap pendidikan Al-Qur’an, pesantren, dan pelatihan qari serta hafiz yang berperan dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Ia menyampaikan bahwa sejak awal, PKB memiliki amanah ideologis untuk mengedepankan nilai-nilai Qur’ani dalam kebijakan publik.
“Sebagai bagian dari NU dan PKB, saya berkomitmen untuk memperkuat pendidikan Al-Qur’an sebagai bagian dari perjuangan ideologis. Ini adalah landasan politik nilai PKB untuk memastikan keadilan, moralitas, dan perhatian kepada umat terlihat dalam kebijakan dan pembangunan yang dijalankan,” ujar Ning Ila.
Ia menyatakan bahwa JQHNU memiliki peran krusial dalam menjaga warisan keilmuan Al-Qur’an Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah tantangan zaman saat ini. Oleh sebab itu, ia meyakini bahwa pemerintah pusat dan daerah perlu memberikan dukungan riil, baik dalam hal anggaran, regulasi, maupun kolaborasi dalam program-program pembangunan.
Sebagai anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Ning Ila juga mengaitkan ajaran Al-Qur’an dengan inisiatif pembangunan ekonomi yang mengutamakan kepentingan rakyat. Menurutnya, nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kemandirian yang terkandung dalam Al-Qur’an sangat penting untuk memperkuat sektor UMKM, pertanian, dan masyarakat berbasis pesantren.
Ia menegaskan bahwa politik yang dijalankannya di PKB bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi tentang pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang moderat dan tradisi NU. Dalam pandangannya, qari dan hafiz bukan hanya sebagai simbol keagamaan, melainkan juga sebagai agen moral yang menjaga etika sosial dan mempertahankan harmoni bangsa.
Momen peringatan Harlah JQHNU ke-75 menjadi kesempatan bagi Ning Ila untuk merenungkan dan memperkuat kembali komitmen politiknya: menjaga Al-Qur’an, merawat tradisi NU, dan mengembangkan kebijakan publik yang mendukung masyarakat dan rakyat kecil.
