Subang, Jawa Barat – Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza, memastikan bahwa gangguan yang sempat terjadi dalam proses pembangunan pabrik produsen otomotif asal Tiongkok, BYD (Build Your Dreams), di Subang, Jawa Barat, telah berhasil diatasi. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah mengambil langkah cepat dengan melakukan komunikasi intensif bersama organisasi masyarakat (ormas) dan seluruh pihak terkait guna menjamin kelancaran proses investasi tersebut.
Kepastian ini disampaikan Faisol Riza saat dimintai keterangan terkait laporan adanya intervensi ormas lokal yang mengganggu proses pembangunan fasilitas manufaktur mobil listrik di kawasan industri tersebut. Faisol menyatakan, pihak BYD juga telah menyampaikan secara langsung bahwa situasi sudah terkendali dan mereka optimis proyek dapat berjalan tanpa hambatan.
“BYD menyatakan bahwa mereka bisa atasi. Kami berharap hal itu tidak terjadi lagi, kami sudah berkomunikasi,” ujar Faisol dalam pernyataannyaujar Faisol dalam pernyataannya, seraya menegaskan pentingnya jaminan iklim investasi yang menguntungkan di Indonesia.
Pembangunan pabrik mobil listrik BYD di Subang merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam mendorong transisi percepatan menuju kendaraan berbasis energi ramah lingkungan. Investasi asing ini diharapkan tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi juga mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional dan memperkuat posisi Indonesia di mata investor global.
Gangguan dari beberapa elemen masyarakat lokal tersebut terjadi dalam beberapa pekan terakhir di lokasi pembangunan di Subang, Jawa Barat. Meski tidak dijelaskan secara rinci bentuk gangguannya, pihak Kemenperin menganggap permasalahan tersebut cukup serius dan perlu ditangani secepat mungkin agar tidak memengaruhi komitmen investasi BYD di Indonesia.
Gangguan terhadap investasi besar seperti pembangunan pabrik BYD berpotensi menimbulkan kekhawatiran bagi investor asing. Di tengah upaya pemerintah memperkuat citra Indonesia sebagai negara tujuan investasi, kejadian seperti ini bisa memberikan sinyal negatif jika tidak ditangani dengan tepat.
Kemenperin langsung melakukan koordinasi lintas lembaga serta pendekatan kepada pihak-pihak lokal yang terlibat. Komunikasi terbuka dan jaminan keamanan bagi pelaksanaan proyek menjadi prioritas utama. Faisol Riza menekankan bahwa pembangunan harus berjalan tanpa tekanan dari pihak mana pun, dengan tetap mengedepankan dialog dan solusi damai.
Dengan selesainya masalah ini, pemerintah berharap proses pembangunan pabrik BYD kembali berjalan lancar. Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat produksi kendaraan listrik terbesar di Asia Tenggara. Hal ini akan mempercepat target nasional dalam elektrifikasi kendaraan dan menurunkan emisi karbon.
Pernyataan Faisol juga mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang stabil, inklusif, dan aman bagi seluruh pelaku usaha, baik dalam negeri maupun luar negeri.
