Harga gula konsumsi nasional mengalami perubahan signifikan hingga mencapai Rp18.284 per kilogram, jauh melebihi Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp17.500. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya cadangan pemerintah, sementara kebutuhan nasional terus meningkat dan mencapai angka 9,1 juta ton per tahun.
Menyanggapi hal tersebut, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui Anggota Komisi IV DPR RI, Hindun Anisah, mendorong inovasi swasembada gula konsumsi. Menurutnya, swasembada menjadi langkah strategi untuk mengatasi ketimpangan antara stok dan kebutuhan serta menekan gejolak harga di pasaran.
“ Saya mendukung percepatan swasembada gula konsumsi sebagai langkah strategi untuk menstabilkan harga dan memperkuat cadangan nasional. Hal ini sejalan dengan Arah Presiden Prabowo, ” ujar Hindun Anisah.
Dalam konteks stabilitas pangan nasional, gula menjadi salah satu komoditas penting yang mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Dengan meningkatnya permintaan namun pasokan terbatas, pemerintah menuntut untuk mengambil kebijakan yang berpihak pada ketahanan pangan jangka panjang.
PKB menilai, bergantung pada impor gula, konsumsi harus dikurangi secara bertahap dengan memperkuat produksi dalam negeri. Dukungan terhadap petani tebu, penyediaan infrastruktur, serta insentif bagi pelaku industri gula menjadi bagian penting dari solusi yang diusulkan.
Hindun Anisah juga menekankan bahwa keberhasilan swasembada gula tidak hanya soal produksi, tetapi juga distribusi yang efisien dan sistem tata niaga yang transparan.
Langkah percepatan swasembada ini selaras dengan program prioritas nasional yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rangka memperkuat ketahanan pangan nasional. PKB berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan ini agar bisa segera diimplementasikan secara nyata.
Dengan dukungan politik yang kuat dan sinergi lintas sektor, Indonesia diyakini mampu mewujudkan kemandirian gula konsumsi yang berkelanjutan, sehingga masyarakat dapat menikmati harga yang stabil dan terjangkau.
