PASURUAN — Musyawarah Anak Cabang (MUSANCAB) Dewan Pengurus Anak Cabang (DPAC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara kerja organisasi dan kebutuhan masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung pada Ahad, 9 Agustus 2026 sebagai bagian dari rangkaian konsolidasi DPAC PKB di Kabupaten Pasuruan.
MUSANCAB Grati digelar di Rumah H. Hasan Bisri, Desa Sedarum, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Forum tersebut mempertemukan jajaran organisasi untuk membahas keberlangsungan kepengurusan sekaligus memperkuat peran kader dalam menjalankan kerja politik di tingkat lokal.
Sebanyak 86 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 11 peserta dari unsur DPAC dan 75 peserta dari 15 ranting. Keterlibatan struktur ranting menjadi bagian penting karena kader di tingkat desa berada lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sidang MUSANCAB dipimpin H. Hasan Bisri, S.E. sebagai ketua sidang dan Hudayanah sebagai sekretaris. Proses musyawarah diarahkan untuk memastikan agenda organisasi dibahas secara tertib serta menghasilkan kesepakatan yang dapat menjadi pijakan kerja kepengurusan.
Peran kader menjadi penting ketika organisasi berbicara tentang hubungan dengan masyarakat. Kader tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan internal, tetapi harus mampu membangun komunikasi, memahami persoalan warga, dan menerjemahkan nilai perjuangan organisasi dalam bentuk kerja yang nyata.
Dalam konteks politik lokal, kedekatan dengan masyarakat menjadi modal yang tidak bisa digantikan oleh struktur formal. Pengurus dan kader yang mengetahui persoalan di lapangan memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami kebutuhan warga sekaligus menyampaikan aspirasi tersebut melalui jalur organisasi.
MUSANCAB juga menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran bahwa politik memiliki dimensi pelayanan publik. Perjuangan melalui jalur politik pada akhirnya harus bermuara pada kebijakan yang memberikan manfaat, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan pemberdayaan.
Semangat tersebut sejalan dengan prinsip dalam Mabda’ Siyasi PKB, termasuk nilai al-ta’awun atau tolong-menolong, al-‘adalah atau keadilan, dan al-amanah yang menekankan tanggung jawab dalam menjalankan mandat. Nilai tersebut menjadi penting ketika kader berhadapan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat.
Sebanyak 15 ranting yang terlibat dalam MUSANCAB juga menunjukkan bahwa kerja organisasi membutuhkan koordinasi berjenjang. DPAC memiliki tanggung jawab menjaga komunikasi dengan ranting, sementara ranting menjadi salah satu penghubung penting antara organisasi dan masyarakat di tingkat desa.
Tantangan berikutnya adalah menjaga agar semangat yang dibangun dalam forum tidak berhenti setelah MUSANCAB selesai. Kader perlu diberi ruang untuk bekerja, berkomunikasi dengan masyarakat, dan mengambil bagian dalam penyelesaian berbagai persoalan di lingkungannya.
Bagi DPAC PKB Grati, konsolidasi organisasi akan memiliki arti apabila mampu menghasilkan perubahan dalam pola kerja. Struktur yang tertata harus disertai kader yang aktif, kepemimpinan yang mampu mengkoordinasikan jajaran, serta komunikasi yang berjalan secara berkelanjutan.
MUSANCAB Grati akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum organisasi. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan partai di tingkat kecamatan sangat bergantung pada kemampuan kader menjaga hubungan dengan masyarakat dan menerjemahkan keputusan organisasi menjadi kerja yang dapat dirasakan di lapangan.
